Thursday, November 29, 2012

TOPU HONIS (1)

Whatsoever you do to the least of your brothers,
That you do unto me!
Whatsoever you do to the least of your Sisters,
That you do unto me! (Mat 25:35)
 
Topu Honis: Selayang Pandang  


Perumahan Topu Honis Kutet, rebuilt  pada 2001
Mungkin belum terngiang ke telinga banyak insan manusia. Jangankan di negara-negara tetangga, di Timor Leste pun, nama ini masih kedengaran asing. Topu Honis barangkali hanya terdengar gemanya bagi mereka yang pernah mengunjunginya secara langsung. Sudah pasti bagi mereka yang sudah merasakan dekapan mesrah dan sentuhan kasihnya. Namun kehadiran  yang ‘tak terkenal’ itu justru telah menghidupkan dan menyelamatkan  ratusan nyawa manusia yang sebenarnya sudah tidak mempunyai harapan untuk hidup. Kehadirannya, yang tidak berjalan mulus itu, telah membenarkan dan menggemakan kembali senandung pujian Abraham: meski semua harapan untuk berharap sudah tidak ada, namun anak-anak Topu Honis masih berharap melampaui harapan itu. Bahwasannya masih ada kehidupan, meski tidak harus diraib di rumah tempat mereka dilahirkan, meski tidak harus diperoleh melalui dan bersama orang tua yang melahirkan, tetapi bersama ‘dia’,‘mereka’dan ‘orang-orang’ yang mempunyai cinta dan hati bagi kehidupan orang-orang kecil yang tersisihkan. 


Benarlah kata pemimpi! Segala sesuatu berawal dari sebuah mimpi. Sembari bermimpi, seorang Richard Daschback, SVD, terus merenung sambil bertanya: apa artinya hidup sebagai seorang missionaris SVD? Pertanyaan profokatif and reflektif ini terus mengusik pikirannya. Pada tahun 1966, intsruksi imperatif pembesar Roma menegaskan bahwa semua missionaris SVD  dari luar Negeri di Indonesia (saat itu Timor Leste ada dalam provinsi SVD Timor) ‘dilarang’ untuk menjadi pastor paroki. Saatnya estafet kepastorparokian diberikan kepada pastor-pastor lokal yang dianggap sudah mampu untuk menangani paroki.  Bersamaan dengan itu mimpi untuk membagun sebuah rumah penampungan bagi anak-anakpun mengandung dalam benak pater Richard, pria yang berkewarganegaraan Indonesia dan Amerika itu. Dalam konteks inilah mimpi menjadi kenyataan baginya, dengan lahirnya sebuah rumah penampungan yang di kenal Topu Honis, yang artinya: guide to life’: ‘penuntun kepada kehidupan’. Benarkah Topu Honis lalu menjadi guide to life? Who’s life have been guided? Have they been guided in its truly meaning? Tentu bukan asal nama!

Pose bersama dengan anak-anak Topu Honis
Topu Honis dalam pengertian yang sebenarnya didirikan pada tahun 1966, dua tahun setelah beliau ditabiskan menjadi seorang imam SVD. Namun Topu Honis baru mempunyai bentuk ketika ia sudah menjadi sebuah LSM pribadi yang didirikan pada tahun 1993 oleh Pater Richard Daschback, SVD, bersama beberapa orang non SVD. Pater Richard Daschback hingga saat ini sudah bekerja dan mengabdi sekitar 44 di Timor Leste dan menjadi direktor Topu Honis.

Topu Honis memiliki dua rumah penampungan berbeda. Keduanya berada di Oekusi. Oekusi jaraknya sekitar 200 km di bagian selatan kota Dili. Oekusi merupakan tempat pertama kolonialis Portugis menginjakan kaki mereka di bumi tempat matahari terbit, Timor Lorosae. Mayoritas orang Oekusi beragama Katolik, walaupun tidak sedikit juga yang mempunyai kepercayaan animistis baik sebelum kedatangan kaum penjajah portugis maupun sampai sekarang.

Dalam bahasa Meto, salah satu bahasa setempat yang kurang terlalu tenar di Oekusi, Topu artinya ‘untuk memimpin dengan tangan’ dan Honis artinya ‘kehidupan’. Topu Honis membiayai dan mengatur dua institusi untuk melayani anak-anak usia berbeda. Yang pertama adalah rumah untuk anak-anak dan tempat perlindungan untuk kaum perempuan yang berlokasi di Kutet, perkampungan kecil yang letaknya di kaki gunung, jauh dari khayalak ramai Oekusi. 

Untuk sampai ke Kutet dibutuhkan sebuah keberanian. Ada jalan yang bisa diakses dengan kendaraan roda dua atau empat yang menghubungkan Kutet dengan pelabuhan laut di Oekusi, tetapi kebanyakan orang berjalan kaki dengan menempuh empat jam lamanya, melewati sebuah jalan yang sangat terjal. Dalam kunjungan beberapa bulan lalu, saya mengendarai sepeda motor. Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan karena harus mendaki gunung dan turun naik motor di jalan bebatuan. Bersyukurlah perjalanan bersama ketiga orang teman itu berjalan dengan aman, lancar dan selamat.

Pater Richard Pose bersama anak-anak and Staff
Kelelahan itu seolah terobati ketika sampai di Kutet, menjumpai anak-anak Topu Honis yang selalu memancarkan wajah cerah-ceriah. Ada sekitar 50 anak yang berdomisili di Topu Honis, Kutet saat ini. Ketika berpapasan dengan anak-anak ini dan menyaksikan gedung-gedung tempat mereka tinggal, serasa tidak percaya kalau itu ada di Kutet, sebuah bukit nun jauh di atas pengunungan, jauh dari kota Oekusi. Yang ada dalam benak saya hanyalah sebuah kekaguman. Bagaimana mungkin gedung-gedung semacam itu bisa berdiri kokoh di atas gunung seperti ini? Bagaimana mungkin anak-anak tak ‘berorangtua’ itu bisa hidup bahagia-tanpa beban, merasa at home, di tempat yang cukup udik ini? Apa yang membuat mereka bahagia, senang, at home?

Mereka tidak semuanya anak yatim-piatu dalam pergertian yang sebenarnya. Pater Richard menjelaskan bahwa “mereka bukan anak yatim-piatu dalam pengertian yang sebenarnya-Topu Honis merupakan tempat yang aman bagi mereka”, kata Pater Dasbach. Perumahan Kutet bukan sebuah panti Asuhan yang sebenarnya karena mayoritas anak-anak yang berdomisili di sana bukan anak-anak yang kehilangan orang tua. Memang, diakui pater Richard, ada anak-anak yang berdomisili di Kutet yang tidak mempunyai orang tua. Tetapi mayoritas dari mereka masih memiliki orang tua, ada yang janda atau duda, ada juga yang orang tuanya menikah lagi, dan mereka tidak mau anak-anak mereka diikutsertakan dalam transaksi perkawinan itu, sebab akan menambah beban bagi suami/istri yang baru, lanjut Richard yang sudah memasuki umur 76 tahun itu. Dalam hal ini, anak-anak dititipkan untuk tinggal dengan keluarga-keluarga dekat yang terkadang mereka diperlakukan secara tidak adil dan dianggap sebagai anggota keluarga kelas dua, mereka memang tidak kelaparan tetapi hidup dalam suasana keterbatasan dan kekurangan.

Suasana semacam inilah yang menggugah sekaligus memotivasi seorang Dasbach untuk menampung mereka, dan tidak cuma itu mau tinggal bersama dengan mereka, mengalami suka duka hidup bersama dengan anak-anak tersebut. “Sehingga kami mengakomodasi mereka....menyiapkan mereka makanan, rumah perlindungan, pendidikan dan pengobatan”, kata pater Richard, mengenang  kembali masa-masa awal pembangunan rumah panti asuhan tersebut. Pater Rikard menambahkan bahwa seringkali anak-anak pergi mengunjungi orang tua mereka. Mereka juga bisa pergi dan tinggalkan panti asuhan itu kapan saja. Tidak ada ikatan atau kontrak resmi. Merekapun akan diterima dengan kembali ketika mereka memutuskan untuk kembali lagi ke panti asuhan itu. Menurut Pater Richard, keputusan untuk tinggal atau pergi adalah 100 persen ada pada mereka. 

 Hal yang sama juga berlaku dengan staff yang bekerja di sana, lanjut Pater Richard. “kami mempunyai 14 orang ibu yang bekerja di sini. Beberapa dari mereka adalah janda yang tidak mempunyai rumah tinggal, tidak bisa kawin lagi, ataupun ibu-ibu cacat mental, tuli misalnya. Bahkan ada beberapa ibu yang tinggal di sana bersama dengan anak-anak mereka. Pegawai-pegawai tersebut tidak dibayar, selayaknya karyawan di sebuah perkantoran atau instansi-instansi, tetapi mereka mendapat penginapan layak, serta makanan gratis plus uang saku sejumlah $22 per bulan.What a life! (Kasmir Nema, SVD)


No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.